Antusiasme Tinggi Masyarakat Jerman dalam Acara Malam Indonesia Karlsruhe 2011

Oleh Admin, PPIKA
December 5, 2011 3:16 pm

Suasana Kebersamaan dalam Acara Malam Indonesia di Karlsruhe

Pada hari Sabtu, 3 Desember 2011 kemarin, bertempat di Studentenhaus Festsaal Karlsruher Institut für Technologie (KIT), diselenggarakanlah Malam Indonesia, sebuah acara yang ingin memperkenalkan budaya-budaya Indonesia kepada masyarakat Jerman. Lebih dari 500 pengunjung dari berbagai kebangsaan yang berbeda datang untuk mengikuti acara yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Karlsruhe ini.

Antusiasme masyarakat Jerman sudah terlihat sejak awal dimulainya acara. Tampak antrean panjang dari para pengunjung setelah 10 menit dibukanya pintu Festsaal. Dalam waktu yang cukup singkat, semua kursi yang telah disiapkan di dalam Festsaal oleh panitia pun telah penuh terisi. Hal ini membuat Ardhi Irsyadi, salah seorang panitia dalam acara ini, segera mengajak panitia-panitia lainnya untuk mengambil kursi-kursi tambahan yang berada di ruang penyimpanan.

Tepat pada pukul 18.05, acara Malam Indonesia ini dibuka dengan tari Tor-Tor. Lalu, Adyatmika Darmanandana (Adya), Ketua PPI Karlsruhe, memberikan kata sambutan sekaligus membuka secara resmi acara ini. “Alhamdulilah, banyak sekali yang datang. Sempet pesimis sebelumnya, tapi ternyata antusias masyarakat sini cukup besar. Selamat menikmati rangkaian acara yang ada“, kata Adya yang terlihat sedikit gugup berbicara di hadapan perwakilan dari Kulturamt (Kantor Budaya), Akademisches Auslandsamt (Kantor Akademik Internasional) Kota Karlsruhe, dan ratusan hadirin lainnya. Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Perwakilan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Frankfurt, yang pada malam hari itu diwakili oleh Bapak Ernest Hadinoto.

Setelah kata-kata sambutan itu, barulah rentetan pertunjukan budaya-budaya Indonesia ditampilkan satu per satu. Dari permainan angklung, seminar tentang batik, permainan alat musik kecapi, hingga tari Topeng. Tepuk tangan dari para pengunjung selalu riuh memenuhi seisi ruangan, lebih-lebih setelah penampilan tarian yang disebut terakhir itu. Lalu, acara dilanjutkan dengan makan malam.

Beraneka macam masakan khas Indonesia yang ditawarkan di bazar Malam Indonesia itu tak kalah menarik untuk dibicarakan. Sebut saja mi ayam, gado-gado, pisang coklat keju, nasi uduk, pastel, soto ayam, onde-onde, bakwan, risol, dan dadar gulung. Semuanya itu sengaja disiapkan hanya untuk memanjakan lidah para pengunjung. Dari bazar minuman, sekoteng, es leci, softdrinks, dan variasi jus pun ditawarkan untuk melengkapi cita rasa masakan Indonesia tersebut. Sambil menyantap makan malam, seperangkat alat musik Gamelan pun tetap dimainkan di atas panggung, supaya malam hari itu para pengunjung benar-benar serasa sedang berada di tanah air kita tercinta.

Photo Booth: Billy dan Sveta

Photo Booth: Billy dan Sveta

Selain rangkaian pertunjukkan di Festsaal dan bazar, Photo Booth pun menjadi sebuah inovasi yang berhasil menarik perhatian para pengunjung. Dekorasi latar yang simpel dan kreatif disinergiskan dengan aksesoris-aksesoris bernafaskan budaya, seperti peci, blangkon, keris, selendang, dan sarung membuat masyarakat Jerman yang pada umumnya memiliki karakter malu-malu untuk difoto menjadi sangat ingin untuk difoto. Mekanisme Photo Booth ini diatur sedemikian rupa, sehingga hasil jepretan tadi bisa sampai kepada mereka dan menjadi sebuah kenang-kenangan dari acara ini. Menariknya, pelayanan yang luar biasa ini tak dipungut biaya sepeser pun.

Acara Malam Indonesia tak berakhir sampai di situ. Negara Indonesia pun dipresentasikan secara singkat dalam acara itu. “Indonesia bukan hanya Jakarta dan Bali saja, melainkan Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Ambon, dan Papua pun adalah Indonesia. Masing-masing mempunyai keindahan tersendiri, yang sayang untuk dilewatkan begitu saja, apabila Anda berkunjung ke Indonesia“, tutur Ursula Gita Astuti meyakinkan. Penampilan sebuah band akustik dari Patriscia Tania (Patty) pun turut menyempurnakan nuansa keindonesiaan yang semakin mengental dari acara satu ke acara-acara berikutnya. Pada kesempatan kali ini, Patty membawakan lagu Nonton Bioskop dan Buat Apa Susah, dengan aransemen kebetawi-betawiannya.

Dari Betawi kita terbang ke Aceh. Kali ini giliran teman-teman kita yang tergabung dalam Tari Saman untuk menunjukkan kebolehannya. Variasi gerakan yang sangat kompak dari para penari dipadukan dengan selang-seling kostum berwarna hijau dan merah membuat para pengunjung tak segan-segan memberikan aplus yang meriah usai pementasan. Tari Klanaraja dan iringan Piano dari Michael Sohandjaja juga terlalu sayang untuk dibiarkan lewat begitu saja. Di penghujung acara, Marissa Utomo (Sasa) mengajak hadirin untuk menari Poco-Poco bersama. Lenggangan patah-patah dari Poco-Poco memang sekilas terlihat sederhana, tetapi menjadi tampak begitu indah dan luar biasa apabila dilenggangkan bersama-sama penuh suka cita dengan orang-orang dengan kebangsaan yang berbeda-beda.

Suasana Tari Poco-Poco

Suasana Tari Poco-Poco

Malam itu sungguh menjadi “Malamnya Indonesia“. Bukan hanya karena PPI Karlsruhe telah berhasil memperkenalkan budaya-budaya Indonesia ke pentas dunia, melainkan karena mereka juga telah membuktikan indahnya momen persatuan, yang tampak di dalam kerja sama kepanitiaan, hingga berbuah manis dan boleh kita nikmati bersama.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *