Nuansa Indonesia di Karlsruhe

Oleh Muhammad Rodlin Billah, PPIKA
November 1, 2014 1:43 pm

Indonesia

Malam Indonesia 2013

Malam itu saya memutuskan untuk keluar dari rumah meskipun suhu di luar berada di sekitar nol derajat celcius. Sebabnya tidak lain yaitu undangan kunjungan ke pulau-pulau di Indonesia  tanpa perlu membeli tiket pesawat atau bahkan menyiapkan tas koper. Beberapa panitia sudah siap di depan lokasi acara dengan buku tamu dan buku panduan acara yang diberikan untuk setiap hadirin yang datang. Sayang, saya datang sedikit terlambat. Seluruh kursi yang disediakan sudah penuh oleh hadirin yang didominasi oleh Deutshcer dan Deutscherin.

Semarak gambang kromong dari Betawi membuka acara Indonesischer Abend 2013 yang diadakan oleh PPI Karlsruhe pada hari Sabtu malam, 7 Desember 2013 lalu di Festsaal im Studentenhaus, Karlsruhe Institut für Technologie, Jerman. Empat gadis belia serentak muncul dari balik gapura di depan panggung mengenakan kostum kombinasi warna hijau-kuning-merah sambil tersenyum manis. Gerakan-gerakan tarian Lenggang Nyai yang mereka tampilkan lembut tapi lincah, tenang tapi energik. Pantaslah tarian ini menjadi appetizer perjalanan hadirin malam itu ke pulau-pulau di Indonesia.

Setelah tepuk tangan penonton reda, Ketua PPI Karlsruhe, Intan Permata Dewi, memberikan sambutannya diikuti dengan penjelasan umum tentang Indonesia oleh MC. Kedua MC kemudian mengarahkan penonton untuk melihat video mengenai beberapa kota dan daerah di nusantara beserta tradisi nya, dimulai dengan Jakarta. Video-video ini dengan cerdas ditempatkan oleh panitia tidak dalam satu sesi yang sama, melainkan dalam beberapa waktu berbeda agar acara berjalan lebih dinamis. Kota dan daerah lain yang ditampilkan profilnya selama acara berlangsung antara lain Tana Toraja, Manado, Balikpapan, Jawa Timur, Yogyakarta, dan Maluku.

Setelah melihat video serta penjelasan mengenai kota-kota tersebut, beberapa hadirin menampakkan wajah takjub, seakan berkata, „benarkah?“, „aku belum pernah kesana“,  atau bahkan „wow“. Tidak jarang pula saya memiliki ekspresi yang sama dengan mereka, salah satunya saat sate buaya disebutkan sebagai salah satu kuliner di Balikpapan.

Seni tradisional dan modern seakan berpadu dengan harmoni saat penampilan grup angklung yang beranggotakan 14 pemuda-pemudi dengan medley ‘Edelweis’ dan ‘Yamko Rambe Yamko’ diikuti dengan penampilan grup musik Ethnospheric dengan nomor ‘Si Patokaan’ dan ‘Rame-Rame’. Perpaduan ini seakan tidak memberikan kesempatan penonton untuk berisitirahat dari ketakjubannya. Seperti tak mau kalah dalam membuat takjub hadirin, baju-baju tradisional dari Sumatra Utara, Sumatra Barat, Betawi, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, serta Yogyakarta juga turut ditampilkan bersama alunan ‘Zamrud Khatulistiwa’ milik Chrisye oleh Ethnospheric.

Pages: 1 2


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *